SEMANGAT ITU MASIH ADA SAMPAI UJUNG SENJA

Tetaplah berjuang sampai ujung senja. Jadikanlah batas kesabaran itu hingga Allah ridho pada diri. Semangatlah apa pun yang terjadi karena hakikatnya meskipun diri tak mau semangat, sesuatu apa pun itu akan tetap terjadi jua.

Sebaik-baiknya teman adalah yang menunjukkan kepada kebaikan.

Teman merupakan bagian yang tak dapat terpisahkan dari kehidupan ini. Tanpa kehadiran teman kita bukanlah apa-apa, dan bukan siapa-siapa. Dalam cakupan yang luas, teman juga bisa diartikan sebagai orang yang menemani kebersamaan dan membantu kita, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Mendapatkan Ketenangan Hati Dalam Menghadapi Masalah Hidup

Setiap manusia tidak ada yang tidak mempunyai masalah hidup, terlepas dari segala aspek status maupun derajatnya. Terkadang masalah tersebut bisa membuat kita menjadi stres atau bahkan akhirnya menjadi sakit, namun jika kita pandai untuk mengelolanya dengan baik masalah tersebut justru bisa menjadi sesuatu pelajaran yang sangat berguna untuk kita.

Rasa gembira merupakan kesan positif kejiwaan yang muncul di berbagai keadaan.

Menghapus rasa duka dan menciptakan keceriaan merupkan hal yang cukup baik untuk diri sendiri maupun bagi keluarga dan masyarakat. Karena rasa duka dan ceria tidak hanya terbatas pada pribadi manusia. Keceriaan dan kesedihan seorang manusia boleh berpengaruh juga terhadap orang lain. Oleh kerana itu, kesedihan ataupun keceriaan seseroang berpengaruh juga bagi orang lain di sekitarnya.

Atasi rasa lelah

Jangan kalah sama rasa lelah. Ketika kita terjangkiti rasa lelah, hanya ada dua pilihan, berhenti atau meneruskan. Tapi ketahuilah, bahwa berhenti karena lelah itu adalah simbol dari kekalahan, menyerah dan putus asa, yang merupakan bagian dari kekufuran.

Tampilkan postingan dengan label HARIS NGAYAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HARIS NGAYAL. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Desember 2023

Hi Kids... This is your dad..

Hi Kids... This is your dad..

Ayahmu yang lagi kangen dengan bapak ibunya, ya betul mereka kakek nenekmu juga. 

Ayahmu senantiasa merindukan beliau berdua yang telah berpulang ke haribaan sang Pencipta..

Rindu yang semakin tak terbendung ini memuncak teringat mereka, terlebih kepada ibunda... 

Hi kids...

Kuharap kau kelak tidak mengecewakan ayah dan ibumu kids... 

Ayah yang tak kenal lelah untuk mendapatkan rupiah untuk kelangsungan hidupmu kids... 

Ibu yang sabar dalam merawat, mengajari dan mendidik di setiap proses tumbuh kembangmu kids... 

Memang ayah dan ibu tak berharap balasan apapun darimu suatu saat nanti kids... 

Tapi ayah dan ibu cuma ingin kau bahagia dengan jalan yang ridhoi Tuhan kita semua kids... 


Hi kids... 

Janganlah sakiti perjuangan ayah dan ibu untukmu dengan perbuatan yang tercela... 

Lihatlah sosok Alex dalam serial "Serigala Terakhir" yang berkorban untuk Ariyati sang istri dan juga Kyla anaknya... 

Alex rela mengorbankan nyawa saat ada yang berupaya mengganggu keduanya.. 

Begitu pula dengan ayahmu ini kids, yang tak rela dan selalu siaga untuk melindungi anaknya.. 


Hi kids.. 

Lihatlah pula serial Open BO yang menggambarkan pengorbanan sosok Ibu dalam diri "Ambar"... 

Yang dijalaninya membuat norma agama dan sosial jadi dilanggar...

Tapi keadaan lah yang membuat dia memilih jalan itu dan akhirnya namanya menjadi tercemar... 

Kita memang tidak boleh menjudge seseorang dengan satu sisi saja yang mungkin itu hanya penilaian liar... 

Kita harus mencoba adil dalam menilai serta memberikan solusi agar seseorang bisa keluar dari problem dan kembali ke jalan yang benar... 


Hi Kids... 

Kau juga perlu melihat Film "Air Mata di Ujung Sajadah"... 

Ibu Aqila dan Bhaskara harus tujuh tahun berpisah... 

Demi suatu ambisi dari si nenek agar keluarga tetap punya marwah... 

Lihatlah ketika mereka dipertemukan untuk kali pertama, air mata bahagia seakan terpecah...

Dan akhirnya mereka harus berpisah lagi, kesedihan kian terasa karena mereka tak bisa untuk tinggal dalam satu rumah... 


Hi Kids... 

Ku harap kamu seperti "Kartika" yang mampu menerima kekurangan sang ayah yaitu "Dodo Rozak"... 

Di Film Miracle in Cell no. 7 dia digambarkan sebagai perempuan yang kuat dalam menerima kondisi sang bapak... 

Pengorbanannya, jerih payahnya dia lakukan agar fakta bisa terkuak... 

Agar hukum tak lagi menjadi ajang tawar-menawar oleh mereka yang gila harta dan tahta, yang akhirnya justru karena itu mereka diperbudak... 


Hi Kids...

Cukup sudah tulisan ini aku buat... 

Dibuat tatkala hujan lebat... 

Di saat menunggu datangnya waktu shalat... 

(hsa/30-12-23)

Rabu, 13 Desember 2023

P.E.R.J.U.A.N.G.A.N.

Kepanjangan huruf keempat dari akronim partai penguasa rezim ini sebelum diisukan sang petugas partai membelot dari 'ibu'. Kalau di KBBI perjuangan dimaknakan sebagai 'usaha yang penuh dengan kesukaran dan bahaya'. 

Tentunya dalam perjuangan baik secara individual ataupun komunal pasti ada 'goal' yang ingin dicapai. Tapi acapkali kita jumpai perjuangan di lingkup komunal ternodai dengan adanya 'goal' individual yang perlahan ingin direngkuh oleh salah satu oknum. And the end, hal itulah yang jadi pemicu goyangnya suatu komunal. 


Ketulusan niat harus ada dalam sebuah perjuangan, karena hal itu yang membuat konsistensi dalam bertindak. Sebagaimana kita sering dengar pendakwah membacakan hadits pertama dalam kumpulan hadits arbain, bahwa segala sesuatu tergantung pada niatnya.


Dalam mencapai 'goal' pastinya tidak semulus seperti yang kita harapkan. Halangan, rintangan ataupun hambatan terkadang datang dari oleh orang di dekat kita. Seperti 'Mas Raja' yang mendapatkan gangguan dari 'Pak Djagat' untuk tetap bersama dengan 'Jeng Yah' di serial 'Gadis Kretek'. Atau kehadiran 'Sarah' di dalam rumah tangga 'Mas Bian' & 'Btari Hapsari' di serial 'Wedding Agreement'. 🙃🙂


Jadi,.... 

(hsa/13-12-23)

Selasa, 23 Desember 2014

Misteri Satu Muharrom

Entah kenapa hari itu begitu sakral bagiku dan juga bagi pemeluk kepercayaan yang sama denganku. Hari itu memang hari spesial bagi umat islam karena hari itu adalah hari pertama tahun Hijriyah dan bisa digunakan sebagai hari evaluasi amal perbuatan mereka. Hari itu juga hari yang bulannya dimuliakan oleh Allah SWT. Dan hari itu kini akan diperingati sebagai hari santri nasional. Entah apa yang melatar belakangi itu, aku tak habis pikir.

Dua tahun yang lalu tepat malam satu muharrom aku merasakan yang namanya kehilangan. Orang yang menjadi panutanku dalam keluarga kini telah berpulang menuju kesempurnaan yang hakiki. Sinar bulan kala itu memang indah namun terasa  datar bagiku. Aku belum siap menerima peristiwa itu tapi aku harus tabah menghadapinya. Ayah, masih banyak cerita yang ingin aku bagikan kepadamu dan banyak pertanyaan dariku yang belum sempat engkau jawab. Ayah, kenapa engkau pergi secepat itu. Ayah, kenapa engkau pergi di saat aku tengah merasakan euforia kebersamaan ini.

Banyak ucapan bela sungkawa datang kepadaku kala itu. Baik secara langsung ataupun messenger dari berbagai akun media sosialku. Aku yang sejatinya wanita memang tak bisa menahan derasnya air mata. Aku merasa berada di fatamorgana tatkala ayahku dikebumikan. Aku merasa di padang yang gersang. Entah itu nasehat buatku agar selalu mengingat kematian atau hanya simbol perasaan hatiku saja yang hampa. Aku tak tahu apa arti itu semua.

Sebulan selepas kepergianku ayahku, aku mulai menjalani hariku seperti sedia kala. Aku yang notabene seorang sekretaris di sebuah perusahaan swasta harus bekerja keras agar posisiku tidak tergeser dengan pesaing. Aku harus segera move on dari peristiwa itu. Masih banyak urusan yang harus aku kuselesaikan selepas pengambilan cutiku selama sebulan. Selama sebulan itu, aku mencoba menyepikan diri. Hanya pesan dari orang yang benar-benar terasa penting bagiku yang aku balas.

Banyaknya tugas yang menumpuk membuat aku mulai lupa dengan sosok pria yang sudah satu tahun mengisi ruang hatiku. Ajakan untuk makan siang bareng juga aku tolak, karena aku memilih makan di kantor dengan bekal makanan ringan yang aku bawa sambil menyelesaikan pekerjaanku. Aku jalani aktivitas keseharianku dengan datar begini adanya. Kerinduan akan sosok imam dalam keluargaku itu semakin menjadi-jadi saja. Aku tak tahu harus berbuat apa dan mengadu kepada siapa. Aku semakin tak terarah bagaikan seorang ahli ibadah yang tak bermahdzab.

Di malam itu mungkin di hari yang sama dengan kepulangan ayahku, aku lupa karena saking tidak ingin mengingatnya lagi, aku bermimpi. Entah ini mimpi buruk atau baik aku tak bisa menyimpulkannya. Aku mimpi berada di alam kubur, aku melihat sosok lelaki yang meronta-ronta kesakitan. Aku melihat beliau disakiti oleh dua sosok makhluk, mungkin mereka malaikat penjaga kubur. Aku coba mendekatinya namun aku takut dengan bentuk kedua mahkluk tersebut. Aku hanya memperhatikan interaksi mereka. Salah satu dari makhluk terus mencabuki lelaki itu dengan alasan karena lelaki tidak memperkenalkan ilmu agama kepada anak-anaknya. Aku merasa prihatin dengan keadaan itu, ingin menyudahi siksaan itu namun aku hanyalah wanita yang lemah tak berdaya serta takut akan penampakan makhluk tersebut. Karena saking tragisnya mimpi itu, aku tak sadar kalau aku terjatuh dari ranjang tatkala aku terbangun. Hal itu mengingatkanku kepada ayahku. Aku langsung memanjatkan doa kepada Sang Kholiq agar mengampuni dosa-dosa ayahku dan agar mengurangi atau menjauhkan siksa kubur bagi mendiang ayahku. Air mata tak kuasa keluar. Lagi-lagi aku tak kuasa menahan rasa ini. Aku belum siap atas kepergian ayah. Aku mencoba untuk bersikap biasa seperti sedia kala namun rasanya canggung dan tak terbiasa melakukannya. Aku harus tabah dalam menjalani takdir Illahi ini.

Tiga bulan selepas kepergian ayah, aku semakin mendekat kepada Allah. Aku mulai mengenal 99 nama mulia Allah yang orang sebut dengan asmaul husna. Aku yang dulu bertanya-tanya, kenapa kok tidak 100 saja. Kini aku semakin aku mencoba memahami bahwa Allah adalah Dzat yang membolak-balikkan hati setiap insan. Orang yang dulunya baik bisa saja diputarkan menjadi orang yang batil, begitu pula sebaliknya. Lantas inikah yang dijanjikan Allah dalam firmannya,"Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." Tapi aku belum bisa menafsirkannya, ini nikmat atau ujian. Selepas kepergian ayah, aku menjadi semakin mendekat kepada sang kholiq. Aku merasa bersalah, kenapa aku tidak melakukan ini saat ayah masih ada. Kenapa aku tidak membuat ayah tersenyum atas keshalihanku tatkala beliau masih hidup. Ahh, semua sudah terlambat. Yang sudah terjadi tak bisa diulangi bak nasi sudah menjadi jujur. Maafkan aku ayah, tak bisa membuat ayah bangga saat ayah masih hidup. Aku rindu ayah, semoga Tuhan mempertemukan kita sekeluarga di surga. Semoga aku bisa menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua baik masih hidup ataupun sudah wafat.

Seratus hari ayahku telah tiba. Seperti biasa keluargaku merayakan dengan ritual yang telah mendarah daging yang orang sebut dengan selametan. Pembacaan yasin dan tahlil membuatku merinding dan merasakan kehadiran ayah di tengah-tengah kami. Ada satu ayat dalam yasin yang membuatku ketakutan untuk bertindak semena-mena. Ayat itu berarti,"Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang yang mati dan kami mencatatkan amal yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan, dan segala sesuatu akan kami perhitungkan dalam bukti yang nyata." (Q.S. Yasin : 12) Ayat tersebut seakan menyadarkan bahwa gerak-gerikku, perbuatanku selama ini diamati dan dihitung oleh Allah. Aku kian lemas menghayati ayat itu. Aku hanyalah hamba yang selalu berbuat dosa. Lantas bagaimana nantinya berat timbangan kala di Yaumul Hisab. Aku hanya bisa mengucap istighfar untuk memanjat ampun kepada Allah. Di tengah pembacaan tahlil, aku mencium bau wewangian dari sudut rumah. Aku enggan untuk bertanya kepada semua orang yang ada. Aku mencari asal bau tersebut. Seluruh isi ruangan kuselidiki namun tak ada satu benda pun yang nampak sebagai sumber wewangian itu. Dalam benakku aku mengira, benarkah ayah hadir dalam ritual suci ini. Aku tak kuasa untuk menangis, ku lantunkan surat fatihah sebagai sambutan untuk ayah sekaligus hadiah untuk beliau.

Agenda kali ini ditutup dengan doa oleh modin yang orang biasa sebut. Aku yang ikut mengamini doa lagi dan lagi tak kuasa menahan jatuhnya air mata untuk membasahi pipi ini. "Ya Allah kuatkan hati hamba dalam menghadapi perkara ini" panjatku dalam hati. Di akhir doa, isak tangisku semakin menjadi-jadi, tak tahu kenapa bisa begitu. Mungkin karena akhir doa itu yang mengiris hati ini. 

Doa yang berarti seperti demikian :
Ya Allah ! Ya Tuhan kami, berilah kami kebajikan di dunia ; kebajikan di akhirat, dan periharalah kami dari azab api neraka.
Aku mengulang bacaan doa tersebut berkali-kali yang kutujukan untuk ayah setelah modin mengakhiri bacaan doanya. Ketika bibir mulai lelah untuk melafalkan doa tersebut segera aku akhiri dengan bacaan ayat kursi. Ayah maafkan anakmu ini, tak bisa mencontoh Siti Fatimah yang begitu shalihah dan begitu berkhidmat kepada sang ayahnya baginda Rasulullah. Aku hanya anak yang termakan oleh globalisasi dan budaya barat lainnya yang menjadikanku sering menentang perintah dan nasihat ayah. Ayah aku rindu kebersamaan kita seperti sedia kala. Ayah amini saja niatku untuk mencoba berkhidmat kepada ibu sebagai wujud maafku yang tak bisa mematuhi perintahmu ayah.

Aku mulai terbiasa menjalani hari-hariku tanpa kehadiran ayah di dunia ini. Aku yang dulunya sering melamun di sela-sela kerjaan kantorku, kini aku mulai nyaman dengan suasana baru setelah aku sering mengikuti majelis ta'lim tiap ba'da shubuh walau hanya ada pada setiap hari ahad. Aku bagaikan bongkahan puzzle yang mulai disusun kembali setelah berantakan. Selepas kepergian ayah, aku mulai mengenal kembali sholawat kepada nabi yang dulu waktu aku kecil sering dilantunkan ayah guna mengajariku. Selepas kepergian ayah, aku mulai sadar betapa pentingnya menuntut ilmu agama agar memiliki pedoman dalam bertindak. Selepas kepergian ayah, aku berusaha menjaga auratku agar tidak menjadikan fitnah. Terima kasih ayah, walau kau telah tiada namun pesonamu selalu menginspirasiku untuk berbuat lebih baik dari sebelumnya.

Kini lima bulan sudah hari-hariku kulewati tanpa senyuman ayah yang biasanya kupandang setiap hari selepas berpamitan kepada ayah. Aku tak boleh terlarut dalam kesedihan. Namun aku juga dibuat bingung, kenapa aku begitu secepat ini menghilangkan rasa sedih dalam atas kepergian ayah. Padahal tatkala aku merasakan orang yang begitu aku sayang dalam hal ini sebut saja pacarku, aku bisa membutuhkan waktu hampir setahun untuk benar-benar tabah menerima perpisahan itu. Tapi ketika perpisahanku dengan ayah seperti saat ini aku hanya butuh satu sampai dua bulan untuk tabah menghadapi ini. Ini mungkin wujud dari janji-janji Allah yang tersirat dalsm kitab suci. Namun hal itu juga tidak terlepas dari semangat man jadda wa jada yang kumiliki. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? Ayat tersebut yang selalu jadi pemacu diriku untuk tetap bersyukur dan menghindari kuffur nikmat.

Tujuh bulan sudah ayah meninggalkan kami, anak istrinya. Di bulan ketujuh kepergian ayah, aku merayakan hari kelahiranku. Di usiaku yang sudah matang untuk membangun bahtera rumah tangga yakni 27 tahun ini, aku banyak mendapatkan percikan kasih sayang dari lawan jenis baik dari rekan kantor, teman di kala sekolah dan kuliah dulu bahkan para pemuda kampung yang menjadikanku sebai rebutan bak piala sayembara. Aku yang belum kepikiran untuk berkeluarga membuat mereka putus asa. Aku masih ingin sendiri dan ingin memperbanyak tawassul serta bermunajat dan muhasabah setiap harinya hingga aku benar-benar siap. Aku juga tak gampang untuk menerima pendamping hidupku. Aku menginginkan sosok yang bisa menggantikan sosok ayah yang kupandang sebagai imam yang baik di keluargaku.

Di bulan kesembilan setelah ayah meninggalkanku, aku mulai kembali dalam ketenangan jiwa. Mungkin itu berkah dari seringnya aku mengikuti majelis ta'lim yang dulunya hanya aku ikuti setiap ahad ba'da kini aku menyelakan waktu untuk hadir seminggu tiga kali. Aku takut hatiku akan mati. Dan aku takut tidak bisa beramal dengan baik jika hatiku mati. Di bulan ini juga aku mulai merasakan getaran dalam hati entah dari mana datangnya. Getaran hati ini aku rasakan tatkala aku berangkat ke majelis ta'lim. Apa karena hati ini yang kaku akan ilmu agama atau ada hal lain yang membuatku seperti itu. Aku tak tahu dengan misteri ini. 

Di bulan sepuluh aku mulai menyadari kenapa selalu bergetar hatiku tatkala berangkat ngaji. Aku tertarik dengan seorang santri putra yang ada di majelis ta'lim tersebut. Aku tertarik karena begitu khidmatnya dia kepada sang Kyai, guru ngajinya. Tak pernah menolak apa yang diinstruksikan oleh gurunya. Walaupun dia dinilai paling lemah dari segi penguasaan ilmu dan hafalan, namun dia selalu berusaha menjadi yang pertama dalam membahagiakan hati sang guru. "Ya Allah! Apakah lelaki ini yang engkau pilihkan untukku", panjatku dalam hati. Aku terkagum dengan tindak tanduknya. Bagaimana tidak? Kepada orang tua yang bukan orang tua kandungnya saja dia begitu khidmat, lantas bagaimana perlakuannya kepada orang tuanya sendiri. Aku tak boleh langsung menjatuhkan hati ini kepadanya. Aku sadar aku masih butuh mengenalinya lebih dalam.

Selama sebulan aku mencoba mencari tahu informasi tentangnya. Mulai dari nama, tempat tinggalnya, asal usul keluarganya sampai status pekerjaannya sekarang. Aku dapati info dari rekan-rekan yang ikut ngaji di majelis ta'lim tersebut. Ternyata dia memang pujaan di majelis ta'lim itu. Banyak santri putri yang terpesona dengan perangainya. Saking sibuknya dengan upaya pengenalan dengan lelaki itu aku lupa kalau sekarang sudah bulan kesebelas kepergian ayah. Dan bulan depan sudah setahun ayah meninggal putrinya si bungsu ini. Ayah aku rindu engkau! Ayah aku rindu senyumanmu! Ayah aku merasa kosong tatkala mengingatmu. 

Tepat setahun sudah aku kehilangan lelaki yang kujadikan pedoman dan pemimpin dalam keluargaku. Aku merasa ingin secepatnya untuk menemukan lelaki pengganti ayah yang bisa memimpin dan membimbingku. Di hari peringatan setahun ayahku meninggal, aku mengundang guru ngajiku di majelis ta'lim untuk memimpin jalannya tahlilan. Di balik sebagai wujud terima kasihku atas beliau, aku juga ingin menceritakan kegalauan hatiku yang ingin segera menemukan pendamping dalam berkeluarga.

Selepas acara tahlilan selesai, aku meminta Kyai untuk mengurungkan sebentar kepamitannya untuk pulang. Aku berkata jujur bahwa aku sedang tertarik dengan seorang santri putra yang sangat khidmat kepada beliau. Aku juga mengatakan bahwa aku rasanya sudah merasa cocok dengan dirinya, walau kami tak pernah berkomunikasi dengan media apapun. Paling hanya sekedar jawaban iya atau tidak yang berikan kepada tatkala aku tanya. Itupun pertanyaanku tidak menyangkut masalah isi kalbu. Pak Kyai malah tertawa mendengar penjelasanku. Mungkin beliau merasa tak heran mendengar hal ini, karena memang pantas dia menjadi idaman wanita banyak. Pak Kyai juga bertanya kepadaku tentang keseriusanku. Aku menjadi gugup tatkala menjawab pertanyaan. Dengan rasa apapun ini namanya aku menjawab kalau aku memang serius telah menjatuhkan hatiku kepadanya. Di dalam ruangan yang hanya ada aku dan pak Kyai terasa semakin genting dengan sikap beliau yang semakin membuatku gugup. Pak Kyai tidak bisa memberikan solusi tentang apa yang aku rasakan saat ini. Namun beliau menyuruhku untuk istiqomah sholat istikhoroh selama tujuh hari. Dan beliau juga menyuruhku untuk memberitahukan hasilnya kepada saat jadwal pengajian.

Setelah kepamitan pak Kyai, aku kembali membantu beres-beres dan setelahnya aku mencari ibuku. Aku menceritakan  hal yang sama kepada ibu yang selama ini belum pernah aku kasih tahu. Ibu hanya menjawab kalau dia setuju saja dengan pilihanku asal dia benar-benar lelaki yang baik dan mampu bertanggung jawab. Ibu mulai menceritakan kisah pertemuannya dengan ayah yang saat itu merantau dan tidak sengaja ketemu ibu. Ayah adalah tipikal lelaki yang jantan, tatkala pertama kali melihat ibu langsung tertarik dan langsung mengajak berkenalan. Setelah tahu nama dan alamat ibu, ayah dengan rombongan keluarganya langsung datang ke rumah ibu untuk melamar. Ibu yang tidak tahu dengan niatan itu dibuat bingung, bagaimana mungkin orang yang pertama kali bertemu langsung memberanikan diri untuk melamar. Aku pun dibuat terpingkal. Untung ibu saat itu masih gadis, lantas bagaimana ekspresi ayah kalau tahu ibu sudah bersuami. Di obrolan itu aku dibuat tertawa dengan kisah ayah dan ibu saat awal pernikahan. Dan aku pun tertidur karena kelelahan mendengar dongeng dari ibu.

Seminggu sudah aku melakukan apa yang disarankan oleh pak Kyai, kini saatnya aku mengatakan hasilnya kepada beliau. Selesai pengajian aku menjadikan diriku sebagai orang yang terakhir berpamitan dengan beliau. Aku mengatakan kalau niatanku agar bisa menjadi pria itu sebagai imam di keluargaku kelak semakin kuat. Pak Kyai kembali tertawa dengan apa yang aku katakan. Aku bingung harus berbuat apalagi. Memang secara adat aku sudah bisa dikatakan ngawur. Namun aku sudah tak sanggup lagi dalam kesendirian ini. Aku juga butuh lelaki yang memimpin dan membimbingku. Tanpa aku sadari ternyata pria yang aku kagumi itu menunggu di balik pintu tempatku mengobrol dengan ustadz. Pak Kyai memintanya untuk masuk dan meminta dia yang memberikan jawaban sendiri.

Dia menjawab bahwa dia sebenarnya belum siap untuk berumah tangga. Dia belum punya banyak bekal baik bekal duniawi untuk menafkahiku maupun bekal ukhrawi untuk memimpin dan membimbingku dalam beribadah. Dia mengembalikan kepastian ini kepada pak Kyai. Pak Kyai yang dari tadi hanya tersenyum girang kini mulai terlihat serius. Pak Kyai akhirnya mengeluarkan kata setuju setelah termenung beberapa saat. Namun setujunya pak Kyai ini bukan tanpa syarat, beliau setuju akan pernikahanku dengan pria itu tapi harus tetap semangat dan istiqomah untuk belajar ilmu agama. Namun sebelumnya pak Kyai juga menanyakan kepadaku apakah aku benar-benar bersedia menjadikan pria itu sebagai suami dengan latar belakang yang demikian. Aku memang sudah tahu kalau dia berasal dari keluarga yang sederhana. Dan dia kini tengah mencari pekerjaan setelah baru saja mendapat gelar diploma. Dan dia kini menjadi seorang marbot masjid yang ada di dekat rumah Kyai.

Aku tak peduli dengan latar belakangnya, yang penting sikapnya yang membuat orang lain tidak terbesit untuk bersuudzon kepadanya itulah yang membuatku ingin menjadi pelengkap tulang rusuknya yang hilang. Di akhir perbincangan ini pak Kyai menyuruhku untuk kembali melakukan sholat istikharah, apakah yang aku rasakan ini berlandaskan petunjuk dari Allah atau hasutan hawa nafsu belaka. Aku mengiyakan apa yang diinstruksikan pak Kyai kepadaku.


Tuhan inilah misteri satu muharrom yang Engkau anugerahkan kepadaku. Setahun yang lalu saat satu muharrom aku harus kehilangan sosok pria yang menjadi imam di keluargaku yaitu ayahku, kini satu muharrom aku memberanikan diri untuk meminta persetujuan dari pak Kyai untuk dijodohkan dengan pria yang aku kagumi semenjak aku mengikuti pengajian. Dan berawal dari keberanianku mengatakan perasaan jatuh hatiku ini membawa keberkahan akhirnya kini aku resmi menjadi istri dari lelaki yang dari hari ke hari tiada rasa lelah untuk berkhidmat kepada guru dan orang tuanya. Lelaki yang begitu mengasihi anak-anak, lebih-lebih kepada anak-anak binaan di TPA didikannya. Aku merasa bahagia. Dan tak henti-hentinya aku mengucapkan hamdallah ketika semua saksi yang hadir mengatakan "sah" di acara akad nikahku. Terima kasih Ya Allah. 

Jumat, 11 April 2014

Kepulangannya

[(masih) bukan] Tulisan Ilmiah
Dengan berbekal uang 37 ribu yang diperoleh dari temannya, dia nekat pulang kampung tanpa peduli harga tiket kendaraan umum yang tengah beroperasi. Tepat pukul tujuh pagi seiring waktu dhuha bersambut, dia berangkat dari kandangnya di ranah perantauannya. Langkah tegap mengiringi dirinya menuju tempat pemberhentian angkot. Sepuluh sasmpai dua puluh meter dia berjalan dengan tegapnya, namun setelahnya dia kembali letoy dan semakin sempoyongan bak orang mabuk. Namun dia bukanlah pemabuk pada umumnya. Dia hanyalah pemabuk cinta dan kasih sayang Tuhannya.
Tak lama setelah kesempoyongannya langkah dia terhenti karena angkot yang dia nanti telah telah tiba sebelum dia sampai ke halte. Dan bersegeralah dia masuk ke dalam angkot agar dapat bergegas ke terminal. Sesampai di terminal dia menjadi bingung karena keramaian di saat suasana hatinya sedang sepi. Keramaian yang diperbuat oleh sopir bus yang asyik memanaskan mesin bus, kenek dan kondektur yang berlarian mencari penumpang termasuk dirinya, pedagang asongan yang menjajakan dagangannya, pengamen yang sedang mengatur nada gitar dan polisi yang mengatur lalu lintas yang telah diamanahkan oleh negara untuknya yang kadang disiakan.
Ditariklah dia oleh kenek tadi. Sehabis itu diapun duduk walau wajah kesepiannya masih tampak jelas terlihat. Pengamen yang menyanyikan lagu syahdu nan sedu pun tak digubris olehnya yang masih menghayati kesepiannya dengan memandang ke arah yang tak tentu. Memang tak sulit untuk membaca pikirannya, karena keluguan wajahnya membuat orang tak canggung untuk mengobrol dengannya hingga mudahlah membaca isi hati dan pikirannya.
Bus pun berjalan namun hatinya belum juga beranjak dari kesepiannya. Pengamen juga telah usai mendendangkan beberapa lagu. Entah apa yang dipikirkan olehnya hingga dia semakin sulit untuk beranjak dari kesepian yang terus menginjak. Memang mimik wajahnya mudah untuk ditebak, tapi isi di dalam hatinya sulit terbaca oleh psikolog sekaliber apapun itu. Selepas pengamen itu tak ada lagi yang bisa mengubah mimik wajahnya dari kesepian.  Pedagang asongan yang berlalu lalang pun tercampakkan olehnya.
Beberapa terminal telah dilalui bus yang dia tumpangi. Namun kondisi psikisnya masih seperti halnya demikian. Aktivitasnya yang hanya memasang tatapan ke luar jendela. Dia hanya melihat pemandangan alam hadiah dari Sang Maha Kaya dan mulai tertidur. Lantas apa yang sebenarnya yang ada dalam benak dirinya.
Empat jam sudah dia tempuh dalam perjalanan dan masih saja dia dalam kondisi yang sama. Penumpang lain yang dari tadi bersamaan dengannya semakin menaruh rasa penasaran dengan sikapnya. Rasa penasaran itu tidak berani diungkapkan karena mereka pun tak kuasa untuk bertanya kepadanya yang semakin menikmati suasana demikian. Satu terminal lagi dia akan sampai pada tempat yang dia tuju dan dia masih saja berlagak seperti orang gila dengan wajah yang tak tentu.
Kini dia telah tiba di terminal kota yang dia tuju, wajahnya masih menyimpan rasa penasaran bagi orang lain. Saat dia turun dari bus, dia berpapasan dengan seorang penjaja minyak wangi arab berjubah hijau. Si penjual menaiki bus namun tetap mengawasi pergerakkannya yang terlihat tak biasa. Tak selang berapa lama sang penjual turun dari bus dan bergegas mencarinya yang memang membuat orang penasaran. Sang penjual pun menemukannya di tempat Yu Gemi si penjual kopi.
Dia tengah mengisap sebatang rokok kretek. Entah apa yang sedang dipikirkannya hingga dia melakukan hal demikian. Dia lumuri rokoknya dengan kopi yang masih panas itu. Terasa dibuat penasaran oleh kelakuannya, si penjual pun mendekatinya. Sewajarnya orang baru kali pertama bertemu, si penjual menanyakan nama, asal, dan basa-basi ala Indonesia punya. Dia tengah sibuk dengan rokoknya hingga menjawab pertanyaan itu pun susah dan hanya dia dengan nada datar.
Si penjual mulai kesal dengan gelagat dan jawabannya. Tanpa berbasa-basi lagi, si penjual bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Dia merasa aneh dengan pertanyaan itu. Semenjak awal keberangkatannya tak ada satu pun orang berupaya mengajaknya untuk berkontak sosial. Malah si penjual yang baru saja ketemu tak lebih dari 10 menit setelah berpapasan tadi lah yang peka dengan kondisinya.
Dia merasa tersanjung atas kepekaasi penjual. Dia pun mulai tak canggung mengungkapkan tentang apa yang sedang dia rasakan sebenarnya. Dia menceritakan bahwa kepulangannya kali ini untuk menemui ustadnya yang telah lama tak pernah ia sambangi sejak dia masuk kuliah. Dia juga menceritakan bahwa maksud kunjungan ke ustadnya adalah untuk meminta pendapat dari beliau akan benih cinta yang muncul dalam hatinya. Dia menceritakan bahwa dia kini tengah dibuat mabuk kepayang oleh seorang mahasiswi fakultas kedokteran.
Dia mengatakan kalau kunjungan tidak lebih dari hal itu saja, namun kunjungan untuk merapatkan ikatan silaturahim yang renggang. Dia juga mengatakan bila bertanya lewat sms ataupun telepon pun terkadang sulit untuk diterjemahkan jawaban dari sang ustad. Ustadnya memang akan memberikan bahasa yang lebih mudah dipahami bila santrinya mau datang langsung menemuinya.
Dia menceritakan ke si penjual tentang ciri fisik dan psikis ustadnya. Dia hanya bercerita sebatas itu saja dan tak mau berbagi cerita terkait ciri wanita yang membuatnya jatuh hati. Dia hanya bercerita bahwa wanita itu selalu hadir dalam doa dan mimpinya. Di dalam doanya dia memohon untuk didekatkan apabila mereka memang berjodoh dan meminta untuk mewajarkan perasaannya bila dia belum jodohnya. Dia juga menceritakan bahwa dia rindu pada nasi goreng dan kopi buatan ibunya yang setiap pagi selalu ada dalam meja makan rumahnya. Dia rindu segala masakan ibunya yang dimasak secara spesial tatkala dia pulang kampung.

Satu batang rokok telah ia isap dengan nikmat. Menyadari hal itu, ia segera menghabiskan kopinya yang mulai mendingin pula. Nampak jam sudah mulai siang dan ia bergegas meneruskan perjalanan menuju rumahnya. Tak lupa ia membayar dan lantas berpamitan dengan Yu Gemi dan si penjual yang mau mendengarkan cerita. Dia sangat berterima kasih kepada mereka. Si penjual yang tersentuh akan kisahnya memberikan satu botol kecil minyak wangi kepadanya. Dia berusaha menolaknya, namun si penjual tetap keukeuh untuk memberikannya. Karena tak ingin berlama-lama lagi diapun menyerah untuk menerimanya. Dia jabat tangan si penjual dan cium tangannya. Kalimat sholawat dan salam untuknya mengakhiri pertemuannya dengan si penjual.

Sabtu, 05 April 2014

Wanita Lagi Wanita Lagi

[bukan] Tulisan Ilmiah

Kini aku akan berbicara lagi tentang wanita. Ide ini muncul karena aku lebih sering menjumpai wanita di dunia ini ketimbang lelaki yang bikin aku kesel dan pengen nampol wajahnya yang songongnya gak ketulungan. Memang menurut sumber yang jelas ini terakreditas “syariah” mengatakan kalau perbandingan pria dan wanita di muka bumi kian lama kian mencengangkan hingga 1 : 2. Sekarang aku pun tak tahu perbandingan itu tengah pada level berapa banding berapa. Namun jika membuat perbandingan yang baru antara pria dengan perawan maka akan menghasilkan rasio yang bertolak belakang dengan data sebelumnya.

Kenapa sih aku kok selalu ngomongin tentang wanita? Menurutku wanita itu makhluk aneh dan kadang sok suci bahkan menujun perfeksionis pula. Mereka berlaga seperti kucing yang mau kawin. Malu saat awal pertama jumpa tapi selalu nagih kalau udah sering ketemu. Saat wanita kecil atau dulunya dipanggil cewe, mereka pasti imut dan mengesalkan. Rasa kesal itu timbul karena saat mainannya direbut atau dia lagi dikerjain sama temennya pasti mulut combenya berperan. Dia selalu mengadu kepada kakaknya kalau nggak kepada mamanya. Dan saat itu juga sang mama langsung menghardik anak yang ngerjain dia.

Setelah dia telah beranjak remaja, dia juga beranjak aneh dan nyebelin sangat. Ketika aku pernah berpacaran dengan seorang anak yang dia saat itu masih SMP. Aku gak sadar kalau dia itu memang nyebelin dan kadang sering manfaatin aku. Ketika dia ada PR selalu aja nyari aku tapi ketika aku butuh keberadaannya dia malah tak ada. Di fase remaja inilah dia bakal ngalami hal yang terkesan konyol dalam hidupnya. Hal itu adalah ketika dia baru pertama kali menstruasi. Dia akan berlari ke sana ke mari ketika ada sesuatu hal yang keluar dari @#^$^&&*&*&#%nya. Dan dia akan berteriak memanggil mamanya seakan ada makhluk halus yang ada dihadapannya.

Itu hanya sebagian aneh makhluk yang sering dipandang anggun. Selanjutnya ketika dia sudah tumbuh dewasa dan berlagak mulai jual mahal dia selalu kian aneh saja. Dia mulai pandai merias diri hingga seperti badut yang tak tahu malu dan selalu mau untuk digoda. Dia yang tak beriman selalu menonjolkan dan merapatkan lekuk badannya. Sungguh ironis terkadang melihat banyak anak ulama ataupun pejabat yang merias diri seperti “miss call” >>> miss itu wanita, call itu panggilan jadi wanita panggilan.

Tidak hanya berhenti di situ keanehan dia. Masih banyak lagi yang akan aku buka dalam kali ini. Namun aku membatasinya karena takutnya dituduh mendiskreditkan suatu pihak. Ketika dia udah menikah dan udah punya anak apalagi anaknya sudah sekolah. Dia selalu memamerkan kelebihan anaknya dan menyembunyikan keburukan robot kecilnya di depan sesamanya. Terkadang dia juga yang menyangkal dia yang mengajarinya tiap hari.  Hal-hal seperti nilai matematikanya berapa, udah hafal apa aja, udah hafal bacaan doa apa aja bahkan udah seberapa englishnya. Memang aneh tingkah mereka.

Dan sempat terpikir olehku ketika sering melihat kebanyakan dari pengemis yang ada di lingkunganku adalah makhluk yang sejenisnya, kadang aku membuat sebuah konklusi sementara yang berbunyi, “ketika wanita yang dari anak-anak hingga tua yang hidupnya tak jauh dari apa yang aku tuliskan di atas, maka masa tuanya hanya akan menjadi pengemis.”
          
      Mungkin itu sedikit cerita yang tidak bermaksud mendiskreditkan salah satu pihak. Dan cukup sekian cerita yang tidak terlalu bermanfaat dan tidak bermudharat juga insyaAllah. Wassalam



Selasa, 01 April 2014

Pentingkah Dirinya?

S
eberapa pentingkah sosoknya? Dia hanya seorang pemuda dari kasta yang terpandang di mata khalayak manusia. Dia pemuda yang hanya menjalankan kewajiban syariat atas Tuhannya. Dia hanya pemuda yang tak begitu layak untuk disanjung dan dipuja. Lantas apa yang membuat kalian jatuh hati bahkan tersihir olehnya?

Keseharian dalam hidupnya yang sederhana dan rendah hati. Pemikirannya yang konvensional nan jadul yang tak digandrungi pemuda masa kini. Amal dan ibadahnya pun juga tidak dilakukan dengan sepenuh hati. Tapi kenapa kalaian masih saja membawa dia dalam mimpi yang semi?

Apakah karena keberaniannya menentang para pelaku birokrat yang bisa dibilang keparaat yang membuat kalian terpikat? Apakah karena keluguan dan kekritisannya dalam berpendapat untuk menghujat para pejabat? Apakah kalian hanya kasihan akan kemiskinannya yang sering jadi bahan untuk diumpat?

Kenapa kalian hanya sekadar prihatin dan tidak berupaya untuk meniru aksi beraninya? Kenapa kalian hanya bisa menjadi penonton sirkus yang tega melihat si gajah dipermainkan pawangnya? Apakah kalian takut kehilangan semua yang kalian miliki jika andil dalam membasmi para tikus dari sarangnya?

Masihkah kalian akan bersifat apatis hingga akan terjadi banyak kejadian tragis? Masihkah kalian menjadi penonton setia drama yang penuh dengan isak tangis? Kenapa kalian tidak berani berperan dalam sdaniwara yang sangat ironis?

Kini saatnya kalian bangkit dari keterpurukan yang kian menerjang! Kini saatnya kalian mulai turun ke bumi dan sadar bahwa dirimu sangat dibutuhkan untuk membasmi para bajingan yang menyalah gunakan wewenang. Kini saatnya engkau menemukan jati dirimu yang diciptakan memang untuk menjadi pejuang.

Jika kau belum bisa menemukan jati dirimu, sebaiknya kamu meniru diru polah tingkah dia. Jika kau belum bisa menemukan jati dirimu, sebaiknya kamu membantu aksi mulia dia. Jika kau belum bisa menemukan jati dirimu, sebaiknya kamu mendoakan cita-cita dia. Lantas siapakah dia itu sebenarnya?

Dia adalah sosok yang penuh dengan keberanian yang tidak tertutupi ketakutan akan kehilangan harta. Dia adalah seorang yang kepercayaan dirinya tak terhalangi oleh rasa malu untuk berada di depan sesama. Dia adalah sebuah jiwa yang rasa imannya tak ternodai oleh ketakutan atas kebijakan pimpinannya.

Lantas sudah sadarkah dirimu? Lantas sudah tahukah apa yang harus kalian perbuat? Niatkan dan lakukan semua kebaikan itu hanya untuk ibadah semata. Tak usah mengejar apresiasi manusia yang sering membuat kita terbuai. Dan jangan lupa untuk berbagi, berbakti dan mengabdi.

Ingat 3M : “Mulai dari yang kecil, Mulai dari diri sendiri, dan Mulai dari sekarang”

                        

Minggu, 16 Maret 2014

Wanita Jelmaan

[bukan] Tulisan Ilmiah
P
ikiran ini tak pernah muncul dariku sebelumnya. Pikiran ini juga bungkan bermaksud untuk mendiskreditkan salah satu pihak. Ini hanya sekadar candaan yang dapat mengilhami kita akan kehidupan. Karena kehidupan tak selamanya kita harus seirus mulu. Isi sedikit waktu yang kita gunakan untuk serius dengan penatnya kehidupan dengan candaan. Langsung saja aku mulai candaan yang kudapatkan dari banyak pihak yang telah mengilhami kehidupanku.

            Candaanku kali ini membahas tentang wanita. Mengapa harus wanita? Tentu saja karena wanita itu indah. Bulshit gak sih? Terserah anda semua memandang wanita dari perspektif mana. Ketika aku bilang wanita itu indah dan anda tidak setuju, berarti anda sedang sakit hati karena wanita. Mungkin karena anda patah hati karena anda hanya dapat melihat saja dia tanpa memiliki karena prinsip anda “cinta tak harus memiliki”. Bagi yang setuju dengan statement tadi, berarti anda sedang berbunga hatinya karena masih bisa merasakan indahnya kasih sayang.
            Langsung ke pokok bahasan kita tadi yaitu tentang wanita. Bicara tentang wanita aku teringat saat pelajaran bahasa indonesia saat smp dulu. Kala itu kami semua diminta untuk membuat sinonim kata dalam kalimat. Si guru memberikan contoh seperti berikut : Wanita yang melahirkanku itu  sedang duduk termenung di dapur. Kata yang digaris bawahi itu tentu anda tahu maksudnya. Dan ketika guru sudah memberikan contoh, tentunya dia pasti menyuruh muridnya untuk membuat contoh juga.
            Saat seperti itulah yang membuat suasana kelas hening dan aku pikir apakah ketika itu akan muncul seonggok sosok makhluk astral sehingga membuat murid takut untuk mengacungkan diri. Aku dengan PD-nya mengangkatkan tangan meski dalam otakku belum terpikir apapun jua. Dengan spontan guru menunjukku dan aku masih berpikir menjawabnya. Gugup mulai nampak pada wajahku. Kugigit ujung jempol sebentar lalu memberanikan diri maju mengambil spidol dan menuliskan sebuah kalimat berikut : Lelaki yang menghamili wanita yang melahirkanku tertawa  melihatku berada di sini.
            Setelah aku selesai menulisnya seisi kelas mengataiku gila. Aku bengong saja dengan respon mereka yang demikian. Aku hanya menjalankan perintahku untuk membuat kalimat yang terdapat unsur sinonim katanya. Kenapa pemikiran seperti itu dibilang omes “otak mesum”. Bagiku sex education itu kan juga penting. Dan berikut ini adalah beberapa hal pentingnya pendidikan seks bagi remaja (Diana Septi Purnama, M.Pd):
•  Untuk mengetahui informasi seksual bagi remaja
•  Memiliki kesadaran akan pentingnya memahami masalah seksualitas
•  Memiliki kesadaran akan fungsi-fungsi seksualnya
•  Memahami masalah-masalah seksualitas remaja
• Memahami faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah-masalah seksualitas
Kenapa setiap remaja yang membicarakan tentang sex itu dianggap cabul bin mesum. Dari situ aku berangkat untuk memutar mind set yang bisa dibilang masih salah. Aku sempat menerka tentang siapa yang salah sih pada kondisi keluarga yang hancur. Pasti anda semua bisa menjawab pernyataan atau bisa dianggap pertanyaan itu.
Kembali lagi ke pokok bahasan kita. Wanita itu identik dengan kedewasaan dan tanpa kita sadari ketika kita bertemu dengan seorang wanita yang berusia sekitar 30an kita selalu memanggil mereka dengan ibu, tante, bunda atau yang lainnya tanpa menanyakan terlebih apakah dia sudah menikah atau belum. Dasar orang-orang seperti itu sok kenal.
Berbicara tentang ibu-ibu, aku ini lagi sebel dengan ibuku. Banyak orang yang mengatakan bahwa ibu adalah orang yang bertanggung jawab dalam hidup kita. Dialah yang mengandung, melahirkan, menyusui dan apalah itu pokoknya. Tapi kenapa aku setiap harinya disuruh makan racun? Tiap hari aku harus memakan masakan dari yang mengandung vetsin. Apa itu yang namanya wanita terindah? Dia seteganya meracuni aku. Dia meracuni dengan racun yang berakibat seperti berikut :
§  Sakit kepala
§  Flushing
§  Berkeringat
§  Wajah terasa tertekan dan sesak
§  Mati rasa, kesemutan atau terbakar di daerah wajah, leher dan daerah lain
§  Jantung berdebar-debar
§  Nyeri dada
§  Mual
§  Kelemahan   (Sumber)
Ya begitulah ironi di kehidupan kita ini, terkadang orang yang kita rasa atau terlihat baik tidak menutup kemungkinan untuk bertindak buruk. Begitu pula dengan ibu,kita sering memuji kebajikan dan kemuliaannya. Namun kita luput untuk mengingatkannya terkait tindakannya yang bisa membahayakan generasi selanjutnya. Aku tidak bermaksud mendiskreditkan sekelompok atau apapun lah itu. Aku hanya mencoba merepresentasikan pengalaman yang ada.
Mungkin itu tadi sedikit info yang sedikit konyol dan semoga maksud yang aku inginkan tercapai. Memang kehidupan kadang tidak jelas arahnya seperti dengan tulisanku ini yang tak jelas maksudnya. Sebelum mengakhiri tulisan ini aku menyampaikan kenapa aku memilih wanita? Kok tidak PEREMPUAN? Ada seseorang yang bilang bahwa perempuan itu bermakna buruk. Kenapa bisa demikian? Karena PEREMPUAN itu singkatan dari PEngen REMas PUnya ANda.



Don't forget to :
Add my facebook at here
Follow my twitter at here
Like my fan pages at here
Subscribe my youtube's channel at here

Minggu, 24 November 2013

Hari Minggu



  Kontradiksi di tengah Nausea

Mereka membuat dua kubu yang saling menghujatnya. Satu kubu berniat menghantamnya dengan omongan yang terasa merusaknya disebut si kiri, dikubu lain berniat memuji akan kenyamanan darinya disebut si kanan. Dan inilah celotehan dari kubu-kubu itu.
Si kiri berkata, “Dia kadang dinanti setiap insan untuk bepergian mencari tempat yang nyaman. Dia selalu ditunggu sebagian umat untuk pergi bertobat. Entah kenapa dia begitu istimewa bagi mereka yang merasa? Entah kenapa dia terasa begitu magis bagi mereka yang memburu nilai magis?”
Tak cukup dengan itu si kiri mempertegas dengan demikian, “Tak ada penjelasan yang membuktikan kenapa dia yang begitu sakral. Kita tenggok apa yang terjadi ketika dia telah dinikmati. Pemburu upah datang telat dengan dalih menyalahkannya karena membuat diri menjadi penat. Para penggaji pun turut dicari-cari karena lelah bersafari.  Apa yang salah darinya begitu tragis nasibnya menjadi sasaran alasan setiap nyawa”
Tak terima dengan kicauan si kanan mencoba untuk membelanya, “Dia memang sacral tapi dia bukan pembawa sial. Dia tak begitu tragis asalkan semua tak berbuat sinis. Dia bukan hanya jujukan umat tapi juga penghilang penat. Dia juga beda dengan yang lainnya. Dia berada di kepungan warna hitam kelam. Lantas mana yang salah darinya kalau dia tak berbuat ulah.”
Itulah kontradiksi akibat kemunculannya. Kontradiksi yang tergantung pada persepsi setiap insani. Insani yang mempermasalahkan dengan duniawi atau insani yang merasa diantarkan ke surgawi. Bahkan insani yang tak mempersalahkannya begitu berarti karena tak tahu harus bagaimana menyikapi.