Tetaplah berjuang sampai ujung senja. Jadikanlah batas kesabaran itu hingga Allah ridho pada diri. Semangatlah apa pun yang terjadi karena hakikatnya meskipun diri tak mau semangat, sesuatu apa pun itu akan tetap terjadi jua.
Teman merupakan bagian yang tak dapat terpisahkan dari kehidupan ini. Tanpa kehadiran teman kita bukanlah apa-apa, dan bukan siapa-siapa. Dalam cakupan yang luas, teman juga bisa diartikan sebagai orang yang menemani kebersamaan dan membantu kita, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Setiap manusia tidak ada yang tidak mempunyai masalah hidup, terlepas dari segala aspek status maupun derajatnya. Terkadang masalah tersebut bisa membuat kita menjadi stres atau bahkan akhirnya menjadi sakit, namun jika kita pandai untuk mengelolanya dengan baik masalah tersebut justru bisa menjadi sesuatu pelajaran yang sangat berguna untuk kita.
Menghapus rasa duka dan menciptakan keceriaan merupkan hal yang cukup baik untuk diri sendiri maupun bagi keluarga dan masyarakat. Karena rasa duka dan ceria tidak hanya terbatas pada pribadi manusia. Keceriaan dan kesedihan seorang manusia boleh berpengaruh juga terhadap orang lain. Oleh kerana itu, kesedihan ataupun keceriaan seseroang berpengaruh juga bagi orang lain di sekitarnya.
Jangan kalah sama rasa lelah. Ketika kita terjangkiti rasa lelah, hanya ada dua pilihan, berhenti atau meneruskan. Tapi ketahuilah, bahwa berhenti karena lelah itu adalah simbol dari kekalahan, menyerah dan putus asa, yang merupakan bagian dari kekufuran.
Tepat pukul Sembilan pagi seperti yang terlihat di layar
ponselku, pagelaran “pesta” pemblokiran jalan oleh warga betek dimulai. Warga berbondong-bondong
berkumpul di sebuah posko yang dinamakan dengan posko dua arah. Dengan panduan
para RT dan RW yang ada di panggung posko warga melanjutkan long march menuju
depan makam islam penanggungan.
Merasa terkhianati oleh si wali kota, warga melakukan
aksi teaterikal dengan menggambarkan seorang warga yang meninggal akibat kecelakaan
pasca diberlakukannya satu arah. Memang setelah diusut dan berdasarkan fakta
yang ada telah memakan korban jiwa sebanyak 8 orang serta korban luka sebanyak
15 orang yang divonis cacat seumur hidup (menurut salah seorang warga).
Aksi ini dipelopori oleh tragedi terakhir yang memakan
korban yang minggu lalu tertabrak oleh pengendara sepeda motor yang hingga kini
masih dirawat inap di salah satu rumah sakit di malang. Warga dahulunya
menerima satu arah yang hanya setengah hari atau 12 jam, namun kini warga mulai
kesal atas kebijakan yang terkesan menindas hak rakyat atas pemberlakuan satu
arah selama 24 jam penuh.
Dengan diberlakukan aturan semacam itu kini jalan
panjaitan laksana sirkuit drag race
ataupun road race yang membuat warga
lama untuk menyeberang jalan dan bahkan anak-anak memboloskan diri untuk pergi
sekolah dengan alas an takut ditabrak pengendara motor yang ugal-ugalan. Sungguh
miris apa yang terjadi di kota Malang ini. Ketika hegemoni akan kejayaan akan
singosari bahkan bangkitnya Arema harus dibayar dengan kebijakan seorang
pemimpin yang justru menindas sosial ekonomi rakyatnya.
Warga betek melakukan aksi tidak sendirian mereka dibantu
oleh organisasi mahasiswa yang berbasis islam dengan benderabercorak kuning dan biru. Sekumpulan mahasiswa
tersebut dari komisariat mereka yang kebetulan terletak di betek juga. Mereka melakukan
long march hingga di depan gang 19 dan menyanyikan lagu Totalitas Perjuangan
serta Buruh Tani. Aksi mereka diawasi dan dikawal oleh setidaknya 200 anggota
polisi (kata komandannya begitu). Tak selang beberapa lama dating sekelompok
mahasiswa lain yang mengatas namakan mereka himpunan mahasiswa islam.
Sekitar pukul 10.30 para demonstran mendekati jembata
soekarno-hatta (red : suhat). Para demonstran bergantian berorasi mengutarakan
uneg-uneg kekesalan terhadap kebijakan yang dibuat oleh si abah (red:
walikota). Mulai dari warga biasa, tokoh kampung, mahasiswa hingga seorang
ustadz ikut berorasi dan memimpin tahlil guna berharap kembalinya dua arah yang
bisa dibilang lebih aman dan sejahtera ketimbang satu arah yang membuat warga
sengsara.
Tepat jam 1 mahasiswa dan warga mulai menutup akses dari
jalan sukarno hatta menuju jalan panjaitan. Hal itu membuat dishub dan polantas
kalang kabut sehingga menerapkan sistem buka tutup pada pintu masuk universitas
brawijaya. Tak selang berapa lama datanglah Hadi Santoso yang merupakan asisten
II dari walikota. Beliau mengatakan kalau bapak walikota tidak bisa datang ke
areal aksi unjuk rasa. Dan beliau hendak mengundang perwakilan warga untuk
berdiskusi di balai kota saja. Salah seorang
warga balik menyerang bahwa akan menonaktifkan kegiatan pemerintahan mulai dari
tingkat RT, RW bahkan sampai Kelurahan dengan jalan yang sudah ditempuh yakni
pengumpulan stempel dari setiap RT dan RW.
Ya beginilah yang dapat saya kabar dan ceritakan. Bila ingin
info lebih detail dan up to date silahkan langsung datang ke lokasi dan bertemu
narasumber yang telah disediakan.
Hari ini ku awali dengan sholat subuh
berjamaah yang menjadi kewajiban tatkala di sana dan akan mendapatkan sebuah
iqob bila tak dilaksanakan. Terasa bingung saat ruangan dipakai untuk sholat
semalam terkunci. Rasa suudzon itu muncul karena anggapan tidak adanya
toleransi dari panitia yang sebagian besar adalah non muslim. Tak ambil pusing
akhirnya kami mengambil sarung dan selimut untuk dijadikan sajadah daripada
harus mencari panitia yang akan mengulur waktu saja.
Air yang dingin membuatku enggan untuk
membasahi tubuh mungil ini. Hidangan pagi belum juga siap, membuatku semakin
bingun untuk berbuat apa. Ku ambil pena dan notebook yang tersedia untuk
merangkai cerita perjalananku di kota Bandung ini. Ku lakukan terus hingga ada
panggilan untuk sarapan dari panitia.
Di ruang makan aku melihat sesuatu
yang ganjil. Ku melihat tumpukan gelas plastik yang digunakan untuk wadah kopi
pagi. Sungguh ironi sekali dengan tagline acaranya “Save the environment,
it will save you later” yang dibawakan hanyalah sebuah kata-kata yang belum
disadari walau banyak yang sudah mengetahui. Rasa sebal muncul saat melihat
gelas plastik kutemukan terbuang di parit sebelah ruang makan. Ke mana jiwa
pejuang lingkungan wahai aktivis bumi hijau?
Seusaai makan, acara kembali
dilanjutkan dengan keberangkatan menuju Kota Baru Parahyangan. Perjalanan ke
sana hampir menghabiskan waktu satu jam. Sesampai di sana, aku dan yang lain
disambut oleh birokrat di sana laksana tamu istimewa dan diperkenalkan dengan
profil, visi dan misi KBP. Setelah itu, aku dan yang lain dijelaskan dengan
kegiatan yang akan berlangsung hari ini.
Haari terrasa melelahkan karena aku
dan yang lain menjalani kegiatan yang terjun langsung ke alam. Aku dan yang
lain memetik bibit tanaman, lalu menanamnya. Hal itu terasa asyik berkat
keberasamaan dari semua peserta yang baru saling mengenal.
Setelah berkutat dengan tanah, aku dan
yang lain menikmati hidangan proses pembuatan kompos organik dan dilanjutkan
dengan praktik langsung pembuatan kompos rumah tangga dengan skala kecil. Walau
bau kompos yang menyengat namun semua tetap semangat untuk mendapatkan ilmu
yang lebih luas lagi.
Puas dengan itu, aku dan yang lain
menuju Green Mosque. Masjid yang indah nan rupawan berkat desainnya, baik
desain interior maupun eksteriornya. Dinding masjid yang berlubang merangkai
kalimat tauhid membuatku semakin merasa memiliki dan bersyukur kepada Yang Maha
Bersyukur.
Setelah berkunjung dan menjalankan
ibadah sholat di masjid, aku dan yang lain beranjak kembali ke Bale Pare tempat
kami disambut tadi. Aku dan yang lain menikmati makan siang dan dilanjutkan
dengan ke Green House untuk melakukan pelatihan biopori dan melihat
rumah contoh “Green Lifing”.
Hari ini ditutup dengan Art
Performance dan Cultural Night di wisma penginapan yang sebelumnya
kami tersihir dengan penampilan aksi dahsyat dari Saung Angklung Udjo.
Hari kedua kuberada di sini. Di sini yang tak kumengerti apa yang harus
kujalani. Pagi beranjak siang namun aku masih terbaring dalam kasur empuk nan
nyaman ini. Perut mulai memberontakku agar segera mengisinya. Kubergegas pergi
ke kantin yang tak jauh dari tempatku berlelah tadi.
Saatku berangkat mencari makan, yang terlihat hanya barisan kereta
beroda empat yang berbaris tak berujung sepertinya. Mereka saling membunyikan
klakson sebagai bentuk kekesalan. Entah kesal terhadap apa dan kepada siapa,
aku tak mengerti. Aku hanya bisa menerka tak pandai bersuara. Aku hanya bisa
prihatin dengan semua yang ada.
Tibalah diriku di sebuah kantin yang berkonsepkan prasmanan ini. Terhidang
banyak makanan yang membuat mulut ini tak tahan untuk mengunyahnya. Kupilih makanan
standar yang sesuai dengan uang yang ada. Kusantap dengan lahap laksana buaya memakan
mangsanya. Kuakhiri sarapan kali ini dengan tegukan segelas air putih yang
memang gratis.
Kulanjutkan perjalanan menuju stasiun untuk membeli tiket kepulanganku. Tanpa
mandi terlebih dahulu, aku berangkat saja karena hari semakin siang saja. Aku nampak
bodoh dengaan keadaan yang tak pernah kutemui sebelumnya. Bertanya ke sana- kemari
akhirnya kutemui angkot apa yang harus kutumpangi.
Setiba di stasiun, yang terlihat hanya puluhan bahkan ratusan orang
berjubel. Mereka mengantri hanya demi secarik kertas yang biasa disebut tiket. Banyak
kedholiman yang terjadi ketika orang yang baru datang menyerobot giliran dengan
nebeng ke giliran orang lain. Ya Allah, begini kah umat yang diharapkan oleh
Rasul Yang Mulia.
Tiga jam mengantri, akhirnya kini tiba giliran hamba. Aku bergegas
menuju loket untuk menyelesaikan transaksi ini karena adzan telah berkumandang.
Aku iya kan saja apa semua yang terucap dari petugas loket yang manis nan
rupawan ini. Kini tiket sudah di tangan, ku bersegera mencari masjid untuk
menjalankan ibadah sholat jum’at.
Aku mencari masjid terdekat. Kucari sumber bunyi lantunan ayat-ayat suci
yang paling keras. Kuambil air wudlu saatku telah sampai di masjid. Ku dengarkan
khotbah yang sedang berlangsung. Memang jasad ini berada di masjid ini, tapi
pikiran kemana-mana. Entah memikirkan apa dan siapa, akupun juga tak tahu. Aku hanyalah
hamba yang tak luput dari gundah gulana.
Sholat jum’at berakhir sudah, namun segenap pikiran masih belum bisa
berpaling dari diri ini. Aku tak tahu harus gimana lagi. aku kembali saja ke
tempat persinggahanku. Aku teringat kalau tujuanku ke kota yang terkenal dengan
gadis-gadisnya yang cantik ini untuk mengikuti sebuah acara. Dan acaranya akan
dimulai sekitar 40 menit lagi, sedangkan aku belum tahu di mana lokasinya. Aku hanya
tetap bersikap santai namun tetap memendam segumpal pikiran yang membebani ini.
Aku sudah di angkot perjalanan ke tempat persinggahankuini. Aku lupa di
mana tadi aku berangkat. Aku hanya ingat nama jalanbesarnya, namun tidak ingat
alamat detailnya. Sebab ini, aku jadi kesasar dan semakin mengulur waktuku
untuk menuju lokasi acaraku kali ini. Memang selalu diiringi dengan kisah
sedikit tragis perjalananku ini.
Kuhubungi teman sejawat yang ada di tempat persinggahanku kali ini. Dia menyediakan
dirinya untuk menganterkanku kee tempat lokasi. Namun karena mendengar kabar
aku yang masih tersesat dan dia sendiri juga mau ada urusan, akhirnya dia
meminta maaf untuk batal mengantarkanku. Tapi Allah memang Maha Penolong, tak
sengaja kita malah dipertemukan di jalan. Dengan segera dia memboncengku menuju
tempat persinggahan untuk mengambil bawaanku yang akan dibawa ke lokasi acara.
Badan ini semakin gatal-gatal saja karena dari tadi pagi bahkan kemarin
sore aku belum menyentuh air sama sekali. Kutahan hingga acara ini berakhhir. Rasa
haus sudah menggelagar, ku minum sebotol air dengan leganya. Kusabar menunggu
acara ini berakhir. Sambil sembari menunggu, kupandangi satu per satu wajah
para peserta.
Di penginapan pun acara terus berlanjut dengan sharing dari berbagi
komunitas seperti KOPHI JABAR, Bangung Clean Action dan GC UI. Dan setelah
semua rangakaian berakhir aku langsung membaringkan tubuhku d lantai 2 ranjang
yang empuk ini.
nam hari lima malam aku berada di
sana. Di tempat yang sedang ditempa musibah. Erupsi gunung kelud membuat banyak
rumah di sekitar tempat ini luluh lantah. Banyak kisah dan kasih yang aku
dapatkan selama berada di sana. Tak hanya itu saja, tentu banyak ilmu pula yang
aku peroleh.
Hari
pertama, aku berkunjung ke rumah seorang warga yang rumahnya sedang dibedah
oleh tim Disaster Management CenterDompet Dhuafa. Beliau adalah ibu Sumiati (36) warga Dusun Sukomoro Desa Puncu
Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri. Dia tinggal bersama suami (38) dan anaknya
(12) di rumah yang sekarang kondisinya rata dengan tanah.
Saat
kejadian beliau langsung berlari ke pos pengungsian di Kecamatan Puncu. Beliau juga
mengatakan bahwa ketika saat kejadian tidak hanya pasir saja yang menghujani
desanya namun juga batu baik berukuran kecil ataupun yang agak besar. Batu-batu
itulah yang membuat rumahnya luluh lantah. Sehari di pos pengungsian Kecamatan
Puncu beliau diungsikan lagi di pos pengungsian Kecamatan Gadungan.
Saat kejadian beliau langsung berlari ke pos
pengungsian di Kecamatan Puncu. Beliau juga mengatakan bahwa ketika saat
kejadian tidak hanya pasir saja yang menghujani desanya namun juga batu baik
berukuran kecil ataupun yang agak besar. Batu-batu itulah yang membuat rumahnya
luluh lantah. Sehari di pos pengungsian Kecamatan Puncu beliau diungsikan lagi
di pos pengungsian Kecamatan Gadungan.
Tak hanya menengok
rumah beliau, saya menengok pula rumah “si embah” dan melihat keadaan sungai
yang pada hari sebelumnya terjadi banjir cukup besar yang suara alirannya
terdengar sampai radius 100 meter dari sungai. Aku menuju ke sungai ditemani
seorang warga. Aku bertanya banyak kepada beliau tentang kejadian hari H dan
letusan kelud yang terjadi sebelumnya.
Hari
kedua, aku bergerak menuju ke Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Aku bekunjung
ke Desa Pandansari yang merupakan desa singgahan mbah bendol yang konon dia adalah
penemu desa tersebut. Untuk menuju Dusun
Klangon yang terisolir aku harus berjalan kaki karena mobil yang tidak membawa
bahan logistik dan material tidak diperkenankan untuk memasuki area tersebut.
Aku berputar-putar untuk
sampai di dusun tersebut. Setelah sampai disana, aku mendapati sebuah jembatan
penghubung dua dusun terputus. Aktivitas pendistribusian logistik bantuan
dilakukan melalui flying fox dan jembatan bambu yang dibuat oleh warga
dan aparat TNI. Aparat TNI juga membantu warga dalam membersihkan dan
memperbaiki rumah warga.
Tidak hanya aparatur TNI
yang membantu warga di daerah tersebut, terdapat pula jamaah tabligh yang
membantu warga di bidang dapur umum dengan beraktivitas memasakkan kebutuhan
makan untuk warga Dusun Klangon Desa Pandansari Kecamatan Ngantang Kabupaten
Malang tersebut. Jamaah tersebut tinggal di Balai Dusun dan sekaligus dijadikan
pula untuk Dapur Umum. Jamaah tersebut tentu bergerak tidak sendirian, mereka
disponsori oleh lembaga sosial.
Aktivitas di hari kedua hanya
assessment rumah dan sekolah serta tempat ibadah yang rusak. Aku menemui sekolah
yang tergolong rusak parah yang terletak di Dusun Kedawun. SDN 4 Pandansari
adalah sekolah yang aku maksudkan. Atap dari beberapa ruang kelas ambles hingga
rata dengan bangku kelasnya. Ketika berada di sekolah itu aku langsung memburu
kamar mandinya karena saking kebeletnya. Namun apa yang kudapat setelah menuju
kamar mandinya, rasanya aku kepengen muntah. Bau pesing dan bau kotoran sangat
busuk menyengat banget. Aku langsung keluar dan menuju ke rumah di depan
sekolah tersebut.
Di rumah depan sekolah itu
kutemui seorang aparat TNI yang terlihat masih muda. Aku bertanya apakah di
rumah tersebut ada toilet atau tidak. Dia bilang bahwa kalau air di dusun ini
sangat terbatas. Aku menunda niatku untuk buang air kecil. Aku mengobrol basa-basi
dengan beliau sampai beliau menceritakan kisah hidupnya yang unik. Beliau akan
menikah dengan seorang gadis yang dulunya istri adiknya yang telah meninggal
beberapa bulan yang lalu. Setelah asyik mengobrol aku berpamitan dengan beliau
untuk pulang ke posko kami di Dusu Kemirahan Desa Damarwulan Kecamatan Kepung
Kabupaten Kediri.
Hari ketiga, aku mengikuti
tim DMC Dompet Dhufa yang akan melakukan Aksi Layanan Sehat (ALS) di Dusun
Laharpang Desa Puncu Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri. Aku berangkat dengan
satu orang dari tim DMC DD, dua orang perawat relawan lepas dari Yogya, satu
orang mahasiswa UI dan satu orang dokter muda dari kota kediri. Kami berangkat
memakai mobil ambulance DD JOGJA yang dikendarai bapak dokter.
Kami melakukan ALS di
pelataran rumah warga setelah mendapat perizin dari kamituwo dusun setempat
yaitu Bapak Sukmo. Kami melayani sekitar 40 warga yang memeriksakan kondisi
kesehatannya paska pulang dari pengungsian. Setelah selesai ALS kami hendak
mampir ke rumah ibu sumiati dan rumah si embah. Saat tiba di depan rumah ibu
sumiati terjadi kejadian heroik oleh kami. Bermula dari seorang warga yang
membonceng nenek-nenek untuk dibawa ke posko kesehatan yang aku pikir akan dibawa
ke tempat kami tadi ALS. Segera dokter dan perawat memeriksa sementara aku
hanya menunggu di mobil menunggu instruksi dari dokter untuk mengambil obat
yang akan diperlukan. Aku bergegas mencari obat yang dimaksudkan dokter. Setelah
memeriksa dan memberi obat nenek itu kami langsung membawanya kerumah dengan
mobil ambulance ditemani oleh anaknya. Rumah beliau berjarak 2-3 km dari tempat
kami mengadakan ALS. Ketika saya bertanya apakah tidak ada posko kesehatan di
sekitar rumah ibu, beliau menjawab tidak. Sungguh ironi, padahal ketika
melewati jalan sebelum sampai di rumah nenek itu aku melihat pos dari salah
satu lembaga sosial.
Setelah selesai membawa
pulang nenek hingga menempatkan beliau pada kasurnya saya langsung berpamitan
untuk kembali ke rumah si embah. Kami menemui si embah dan melihat kondisi
rumah yang telah direnovasi oleh relawan DD. Selanjutnya kami bergegas pulang
karena hari sudah hampir senja dan cuaca mendung pula.
Hari keempat, aku kembali mengikuti aktivitas di Dusun
Klangon dengan tim DMC DD. Di hari ini kami akan merealisasikan setelah kami
melakukan assessment pada dua hari sebelumnya. Kami merenovasi setidaknya 4
rumah dan akan membangun posko kami di situ. Tidak hanya sampai di situ saja,
tim DMC DD berencana membuat cluster mandiri di dusun tersebut. Dan insyaallah
akan membuat dusun tersebut menjadi green village. Apreasiasi warga
terhadap kinerja tim DMC DD sangat baik. Tidak hanya warga saja, aparat TNI
memberi acungan jempol atas kekompakkan dari kinerja tim DMC DD yang berniat
menghijaukan dusun tersebut.
Hari kelima, kami telah berfokus untuk ke Dusun
Klangon sesuai dengan hasil koordinasi yang dilakukan setiap malam setelah
makan malam dan sholat isya’. Karena di Puncu dianggap tinggal finishing
saja kami beralih fokus ke Dusun Klangon yang terisolir dan belum banyak
bantuan secara SDM di sana. Di hari itu kita meneruskan perbaikan rumah dan
pembangunan posko DMC DD dengan menurunkan setidaknya 50 relawan. 50 relawan
tersebut dibagi menjadi di beberapa titik. 10 orang di Mushola Al-Falah yang
ada di SD 2 Pandansari, lima orang membuat posko dan sisanya membantu
memperbaiki rumah warga. Tidak hanya aktivitas itu saja, kami juga membagikan family
kit kepada 5 KK dan satunya telah dibagikan untuk si embah di Puncu. Kami menemukan
si embah baru di Dusun Klangon. Si embah yang rumahnya berada di ujung RT
tersebut. Family kit yang diberikan tersebut rencananya akan bertambah menjadi
100 unit keluarga dhuafa lainnya.
Hari keenam, ini adalah aku haari terakhir
berpastisipasi di sini. Hari ini mungkin aksi besar-besaran bagiku. Bagaimana
tidak besar-besaran, di hari ini kami bekerja sama dengan anak-anak pramuka
dari Kecamatan Kandangan untuk pergi ke lokasi. Untuk aksi yang dilakukan pada
hari itu aku tak begitu mengikuti karena aku telah balik ke asrama tercinta
untuk mengikuti pembinaan.
Enam hari lima malam aku berada di sana. Banyak pelajaran
yang aku peroleh. Banyak strategi partai politik yang aku lihat ketika relawan
partai membantu warga dan memberikan bantuan. Banyak pula politik amal yang aku
kutemui. Mengapa aku katakan demikian, karena mereka memberikan bantuan tidak
lebih hanya untuk kebutuhan laporan dengan jalan mengambil foto dengan warga
yang menerima bantuan dan sebuah bendera atau banner yang berada di belakang. Tidak
hanya itu saja, korban bencana itu membutuhkan bantuan dalam jangka panjang
bukan bantuan yang bersifat sementara atau jangka pendek.
Mungkin itu sedikit cerita yang bisa aku bagikan. Apabila
banyak salah kata mohon dimaklumi namanya juga manusia.
“Sebagian besar orang tak tahu bagaimana BERBAGI karena mereka tak pernah mengerti mengapa orang MEMBERI.”
Sore tiba disambut dengan
kumandang adzan ashar hari ini. Aku terbangun disaat alarm di ponsel berbunyi. Aku
masih dihantui rasa kantuk dan mencoba untuk membuka sepenuhnya kedua mata ini.
Adzan telah selesai dan akupun menyegerakan mengambil air wudlu. Aku mengambil
kopiah lalu berangkat menuju masjid.
Aku sedikit berlari menuju
masjid karena sudah berakhir iqamah. Sesampai di masjid aku langsung mengisi
shaf paling depan yang masih kosong. Kantuk ini masih berat namun ucapan
istighfar bisa menghilangkan rasa itu dan lantunan niat segera memulai
sembahyangku ini. Ketika sholat berakhir aku masih bingung akibat rasa kantuk
yang kembali hadir. Aku selesaikan wiridku dan bergegas untuk kembali pulang.
Ketika meilhat kasur rasa
kantuk itu semakin menggila. Namun aku berupaya melawannya karena aku sudah
berniat untuk mengikuti kajian di Masjid Muhajirin nanti maghrib. Aku ragu
kalau aku kembali tidur akan kebablasen bahkan
mungkin hingga isya’. Aku pilih untuk berangkat sekarang saja. Aku lihat jam
ternyata masih setengah empat. Tapi tak apalah daripada tidur nanti
dibilang nggak produktif. Padahal jika
ditilik artinya produktif itu menghasilkan, kalau dipikir-pikir tidur itu juga
menghasilkan mimpi yang indah untuk masa depan.
Kembali ke tujuanku kali
ini yang hendak mengikuti kajian di masjid Muhajirin. Aku lihat terlebih dahulu
materi apa yang disajikan hari. Setelah kulihat di jadwal yang ada di dinding
kamar ternyata materinya adalah Kajian Fiqih. Aku pun segera berangkat menuju
tempat itu. Aku membawa bekal yang seadanya yaitu : 2 Buku dan 1 Al-qur’an. Aku
masukkan itu semua dalam tas yang kutemukan di gudang tat kala pindah kontrakan
kemarin.
Aku berjalan menuju masjid
sekitar 30-45 menit karena diperjalanan aku sibuk membaca buku yang berjudul “SURGA
DI WARUNG KOPI”. Selain itu aku asyik mengamati ramainya kendaraan dan tak
jarang bertegur sapa dengan orang yang aku kenal ataupun yang tak aku kenal. Aku
sampai di sana sekitar pukul 4 sore. Aku melihat sosok yang tak asing bagiku. Setelah
kutelusuri ternyata adalah Murobiku dulu yang bernama Sam Hatir. Aku sapa dia lalu kupernalkan diri lagi untuk
mengingatnya. Dia yang sibuk menjaga anaknya.
Aku kembali membaca buku
itu lalu aku berhenti ketika adzan kurang 15 menit. Aku mengambil air wudlu
lalu bergegas mengeluarkan al-qur’an dan kubacanya. Adzan magrib berkumandang
setelah aku menyelesaikan surat al-luqman. Aku bergegas mengambil posisi shaf
paling depan. Setelah sholat pengajian di mulai.
Pengajian kali membahas
Mahzab qunud dalam sholat. Beliau menjelaskan
terdapatkan empat mahzab yang mengatur qunud. Ada dua imam yang menyunnahkan
qunud yaitu :
1.Imam Malik menyunnahkan membaca qunud dan menganjurkan
dilakukan sebelum rukuk
2.Imam Syafii menyunnahkan membaca qunud dan menganjurkan
dilakukan setelah I’tidal dan pada witir di pertengahan bulan ramadhan hingga
akhir bulan.
Dan
Imam lainnya yang tidak menyunnahkan qunud adalah :
1.Imam Hanafi tidak menyunnahkan
2.Imam Hambali tidak menyunnahkan namun menganjurkan
dilakukan waktu malam sholat witir.
Pada pengajian itu menyinggung masalah
syiah dan Ahlussunnah wal jamaah. Yang untuk lengkapnya bisa dilihat di link
berikut karena isinya hampir sama.
Suasana pemilu 2014 sudah tercium aroma dari sekarang. Strategi-strategi pendekatan partai politik mulai digencarkan untuk menjemput 'konsumen'. Kenapa hal demikian dilakukan? Yang pasti strategi itu dilakukan untuk meningkatkan elektabilitas dan kredibilitas partai politik. Dan tak ayal hal tersebut dilakukan bertujuan untuk memulihkan kepercayaan terhadap kasus yang menimpa kader partai politik.
Sebenarnya dalam kesempatan kali ini penulis tidak bermaksud untuk menyudutkan salah satu partai politik ataupun menurunkan kredibilitasnya. Di sini penulis hanya bermaksud menguak apa yang penulis lihat, baca dan dengar. Dan sebelumnya penulis mengucapkan maaf bila ada pihak yang merasa dirugikan atas tulisan ini.
Kembali ke pokok bahasan, penulis akan menceritakan apa adanya. Pada minggu 22 Desember 2013 yang bertepatan dengan Hari Ibu DPC PKS Malang mengadakan cek kesehatan gratis di jalan May. Jend Panjaitan. Penulis di sini tidak berbicara banyak hal karena dalam kesempatan tersebut penulis tidak sempat bertanya secara langsung kepada penyelenggara acara.
Lalu apakah ini menyuri start kampanye? Penulis tidak dapat memutuskan karena tidak memiliki kapasitas untuk menjawab.Kita serahkan saja kepada Bawaslu saja. Kalau tindakan yang dilakukan ZAIN ARIF YUNIARTO caleg DPRP kota Malang nomor urut 2 dapil klojen ini dinyatakan melanggar tata tertib kampanye. Lantas bagaimana dengan tindakan capres yang mengiklankan dirinya lewat TV yang mereka miliki.
Seperti halnya yang dilakukan oleh capres dan cawapres dari partai hanura, melalu stasiun televisi yang dikuasainya. Pasangan tersebut membungkus strategi tersebut dalam beberapa rangkaian acara semisal Kuis Kebangsaan dan Kuis Indonesia Cerdas. Ada pula program Padamu Negeri Win-HT Peduli yang katanya berupa pinjaman modal tanpa agunan dengan bunga nol persen.
Ada lagi cara yang berbeda yang dilakukan oleh capres ARB. Melalui perusahaan anakan yang dimilikinya dia membeli saham Arema Indonesia. Nama Arema Indonesia yang sudah mengakar dua musim belakangan ini diganti menjadi Arema Cronus. Kata Cronus diambil dari nama perusahaan yang membeli sebagian besar saham tersebut. Tidak hanya itu saja, warna kostum Arema kini mulai muncul corak kuning yang menjurus ke warna partai politik tersebut.
Semua langkah tersebut tentunya bertujuan untuk mendekatkan partai politik dengan masyarakat. Jika telah dikenal tentunya mereka berharap dipilih. Kembali pertanyaan apakah hal tersebut melanggar tata tertib kampanye. Sepertinya hal itu wajar dilakukan selama dana yang dipakai untuk kebutuhan tidak berasal dari uang negara yang bisa menimbulkan defisit keuangan negara.
Jadi disini penulis hanya menguak sedikit contoh yang ada. Saya hanya bisa MENYAMPAIKAN, Anda sendiri yang MEMUTUSKAN.
Pagi kali ini aku terbangun agak siang dari biasanya. Aku bangun sekitar ppukul 6.15 waktu asrama etos ikhwan. Mungkin aku kesiangan karena semalaman begadang ngedit blog Rising Star dan blogku sendiri. Tak terlalu lama bermalas-malasan aku langsung bergegas mengambil air wudlu meski matahari sudah menyinari kota yang sedang panasnya dengan UB (Universitas Berangkot).
Setelah kupanjatkan doa kepada ALLAH ya Robbi,aku langsung bergegas mengecek apa saja yang harus aku bawa untuk mengikuti kegiatan di Posyandu RW 5 Kelurahan Penanggungan yang merupakan Desa Produktif Etos Malang. Acara kali ini memang yang mengadakan adalah Dompet Dhuafa Jawa Timur. Acara kali ini bertepatan dengan Hari Ibu Nasional.
Aku berangkat dari asrama sekitar pukul 6.30 waktu setempat. Aku berangkat melewati depan Fakultas kebanggaanku. Aku merasa nyaman di tengah kelenggangan jalan pagi ini. Bila siang hari pun bisa selenggang ini aku bisa menyeberang dengan nyaman di tengah berlakunya one way ini.
Aku bertemu dengan anak binaan di Desa Produktif. Mereka bertanya kepadaku,"Ada acara apa, Mas?"
Kupikir mereka sudah tahu dengan acara ini dan kupikir mereka juga dilibatkan di acara kali ini. Lalu kujawab,"Ada acara baksos di Posyandu?"
"Baksos apa, Mas?" balas mereka
"Aku juga nggak tahu, dik"
Berbasa-basi dengan mereka sembari melihat permainan gundu mereka.Ku bengong sebentar lalu kuajak salah seorang anak untuk mengantarku ke Posyandu.
Sampai di Posyandu aku bengong ketika melihat tak nampak seorang yang katanya "Relawan Muda" itu. Aku berfikir dan merenung di dalam hati,"Katanya relawan kok telat, seharusnya kan siap siaga setiap saat." Ahh.. Mungkin itu efek karena seminar gratis yang diberikan oleh Dompet Dhuafa Jawa Timur.
Kisaran sepuluh menit termenung di pinggiran kali brantas tempat Posyandu itu berada, tak kunjung ada orang yang datang. Kupikir acaranya bukan di tempat ini, lalu kusegerakan sms temanku yang menjadi koordinator acara ini. Dia membalas,"Tunggu saja sebentar."
"Tunggu sebentar?" Apa nggak keterlaluan? Ini sudah telat hampir 30 menit. Bahkan ibu-ibu sudah mulai berdatangan.
Kini aku merasa kawatir. Rasa kawatir itupun terrsentak oleh tingkah seorang ibu-ibu yang sepertinya kesal dengan panitia. Berhubung tidak ada sosok panitia yang nampak di hadapannya, akupun jadi tumbal.
Ibu itu mengutarakan kesalnya,"Jadi jam berapa acaranya, Mas?"
Aku jawab dengan bahasa jawa sopan,"Kulo mboten ngartos, Bu, Kulo mboten panitianipun e,Bu"
Ibu itu merespon,"Walah Mas, Aku sudah siap-siap dari jam 5 lo, Mas." "Sampai aku relakan gak jualan"
Aku coba mereda,"Saya hubungi teman-teman dulu , Bu"
Selesai meredakan kekesalan Ibu itu lalu datanglah Ibu RT yang membawa kunci Posyandu ini. Akhirnya masalah sedikit reda. Posyandupun dibuka lalu segera Ibu-ibu itu membersihkan bagian dalam. Aku yang tak hanya bisa diam bersegera mengambil pengki untuk mengambil pasir yang akan kupakai untuk menutupi kotoran kucing yang menyengat baunya ketika pertama kali datang Posyandu tersebut dan jnuga menjadi bahan keluhan Ibu-ibu ini.
Selang berpuluh menit, akhirnya para panitia berdatangan dimulai dari datangnya Mas Roofi dan Mas Huda serta Bapak RT yang mendorong kereta sorong yang berisikan bahan yang akan dibagikan untuk Ibu-Ibu yang hadir dalam acara tersebut. Karena tidak tahu apa-apa tentang acara ini,aku bertanya pada salah seorang "relawan","Acara hari ini ngapain aja, Mas?"
Dia menjawab,"Waduh saya kurang tahu, Mas"
Bagaimana bisa begitu? Lagi dan lagi masalah yang pelik di negeri adalah komunikasi. Apakah tidak adanya transparansi atau kejujuran yang tidak dimiliki para aparatur negara ini. "Sudahlah", pikirku. Bukan kapasitasnya sekarang aku mempermasalahkan itu kali ini. Niatku kali ini hanyalah membantu kumpulan pemuda yang di punggung bajunya terbesiit tulisan "VOLUNTEER".
Aku bantu Pak RT untuk mengangkut kardus yang berisikan apapun itu aku tak tahu dan tidak aku tanyakan pada mereka.Selesai menyelesaikan pekerjaan itu, aku mengajak anak binaanku yang tadi telah mengantarku untuk pergi sarapan. Awalnya dia menolak namun setelah datang satu anak lagi, akhirnya dia menerima ajakanku. Kita lalu pergi ke sebuah warung rujak petis tempat mereka biasa makan.
Di warung itu aku kepoin mereka tentang kondisi internal mereka. Saat kutanya bagaimana hasil raportnya timbul jawaban yang bertolak belakang. Si Feri yang senang dengan hasil raportnya karena mendapatkan ranking ke 3 di kelasnya.Sementara Saiful agak sedikit malu karena di berada di rangking 29 darri 30 siswa yang ada. Aku merasa bersalah karena semester ini, aku sibuk dengan dunia tanpa memerhatikan desa yang jadi tanggung jawab. Aku menghela nafas sejenak dan berniat untuk memperbaiki ini di semester depan.
Setelah selesai bercerita tentang kondisi pendidikan lalu aku bertanya tentang kondisi internal keluarga mereka. Kali ini mereka mengalami hal yang namun posisinya yang saja yang berbeda. Mereka sama-sama berada dalam kondisi perceraian orang tua mereka. Alasan kenapa orang tua mereka berpisah aku tidak menanyakan karena bermaksud menjaga aib mereka. Si Feri yang ditinggal Bapaknya tiga tahun silam. Si Saiful ditinggal ibunya nikah lagi. Selesai menanyakan hal itu, aku hanya berpesan kepada mereka,"belajar yang rajin, biar bisa nyenengin Bapak-Ibu."
Sepulang dari warung itu kami langsung menuju ke Posyandu tadi. Di perjalanan menuju Posyandu aku bertanya cita-cita mereka. Si Feri pengen jadi polisi dan Saiful pengen jadi Tentara. Dalam hati aku berdoa kepadaMU ya ROBB,"Kabulkanlah cita-cita mereka."
erja, kerja dan kerja begitulah kata yang sering
terlontar dari bibir manis lelaki kelahiran Magetan 17 Agustus 1951 pada kuliah
umum di Auditorium Prof. Suryono Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang Jum’at
15 November 2013 lalu. Acara yang dihadiri lebih dari 200 mahasiswa Universitas
Brawijaya dan lebih dari 20 simpatisan Dahlan Iskan ini dibuka dengan lantunan
hangat lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh semua hadirin dan berlanjut sambutan
dari Dekanat Fakultas Teknik yaitu Prof. Dr.
Ir. Mohammad Bisri, MS. dan dilanjutkan dengan smabutan yang disampaikan oleh
pimpinan STTAD.
Acara yang bertemakan kuliah
umum ini juga dipandang sebagai pencitraan Dahlan Iskan dalam majunya dia
sebagai Capres yang diusung lewat Konvensi Partai Demokrat. Dalam materi yang
disampaikan oleh pria yang mengawali karier di majalah tempo ini menyampaikan
bahwa “kedepannya Indonesia ini akan sangat tergantung pada kaum scientist yang
berasal dari civitas akademisi khususnya mahasiswa teknik”. Beliau juga
mengungkapkan bahwa kalau di masa lalu hingga sampai detik ini Indonesia masih
dikuasai oleh kaum politisi, kedepannya kaum teknik harus mendominasi negeri
ini dengan pemikiran-pemikiran yang logis.
Lelaki yang menjabat sebagai
Menteri Badan Usaha Milik Negara memprihatinkan kondisi Indonesia dalam sektor perekonomian
khususnya perdagangan. Beliau prihatin dengan kondisi ini karena sesuai dengan
data dan fakta yang ada imporr BBM atau Bahan Bakar Minyak yang dilakukan oleh
Indonesia ini membuat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit dengan
jumlah yang cukup besar. Dalam keadaan defisit yang demikian membuat Indonesia
berada dalam keadaan “Dry Cash” yang merembet terjadinya inflasi tinggi.
Lelaki yang tengah konsen menggodok
proyeknya yaitu mobil listrik ini
berbicara bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah kendaraan terbanyak khususnya
motor yang mencapai 80 juta unit motor atau kisaran sepertiga rakyat Indonesia
telah memiliki motor. Suami dari ibu Nafsiah sabri ini memaparkan bahwa dalam
jumlah motor yang sedemikian banyaknya itu tiap tahun mengalami pertambahan
sebanyak 10% atau 7-8 juta unit motor.
Beliau juga memaparkan bahwa
Indonesia telah memiliki setidaknya 22 ribu tempat tidur Rumah Sakit. Dalam pembicaraan
fokusnya tentang mobil listrik kali ini beliau terganggu dengan mindset atau paradigma
masyarakat awam. Masyarakat yang masih berfikir bahwa mobil listrik nantinya
saat dipakai berhenti atau kehabisan daya di jalan bagaimana cara mengisi ulang
atau men-charge-nya. Dengan gaya santai lelaki yang mulai suka dengan
olahraga senam dan sering memakai sepatu kets ini menjawab bahwa masyarakat harus mencharge
terlebih dahulu mobil listriknya, jika mobil biasa kita harus mengisi BBM
di SPBU tapi mobil listrik kita tidak perlu ke SPBU atau dengan cukup mencharge
di rumah ketika sebelum tidur ataupun di pinggir jalan yang ada colokannya.
Beliau juga mengungkapkan bahwa mobil listrik edisi kedua ini mampu menempuh
jarak 180 kilometeratau telah mengalami
pertambahan jarak atau jangkauan dari sebelumnya sejauh 120 kilometer untuk
satu kali charge. Beliau juga mengatakan bahwa mobil listrik adalah
produk yang sangat benefit untuk persaingan dengan negara lain karena masih
beberapa negara yang menggunakan mobil listrik.
Beliau juga meyakinkan dengan
fakta bahwa masyarakat tidak perlu pusing lagi karena pada bulan juli 2013 lalu
pemerintah telah meresmikan pabrik Litium yang digunakan sebagai bahan bakar
mobil listrik nantinya. Beliau juga memaparkan bahwa meskipun pengesahan mobil
listrik belum ada namun dalam waktu dekat ini melalui Menteri Riset dan
Teknologi akan mengeluarkan Surat Keputusan tentang mobil listrik ini.
Dan beberapa rangkaian acara
kuliah umum ini ditutup dengan Chicken Dance ala Dahlan Iskan serta
gemeriah pekikan yel-yel dari seluruh mahasiswa Fakultas Teknik Universitas
Brawijaya.
1…2…3… TEKNIK